Pendahuluan
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbeda dengan mukjizat para nabi sebelumnya yang bersifat kasat mata dan terbatas oleh waktu, mukjizat Al-Qur’an bersifat abadi, menyinari umat manusia hingga hari kiamat.
Makna Mukjizat
Secara bahasa, mukjizat berasal dari kata i’jaz, yang berarti melemahkan. Artinya, mukjizat adalah sesuatu yang melemahkan manusia dari menandingi atau menirunya. Maka, ketika seseorang tak mampu mendatangkan yang semisal Al-Qur’an, padahal mereka ditantang, itulah bukti keagungan dan kemukjizatannya.
Dalil Al-Qur’an sebagai Mukjizat
Allah berfirman:
> “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.”
(QS. Al-Isra: 88)
Ayat ini adalah tantangan terbuka bagi seluruh makhluk untuk menandingi Al-Qur’an—dan hingga kini, tidak seorang pun mampu.
—
Kisah Nyata: Dr. Maurice Bucaille dan Firaun yang Tenggelam
Salah satu bukti kekuatan mukjizat Al-Qur’an tercermin dari kisah masuk Islam-nya Dr. Maurice Bucaille, seorang ahli bedah dan ilmuwan asal Prancis. Pada tahun 1975, ia ditugaskan untuk meneliti mumi Firaun Mesir yang diyakini hidup di masa Nabi Musa ‘alaihis salam.
Ketika meneliti mumi tersebut, ia menemukan keanehan: tubuh Firaun masih utuh, padahal sudah berusia ribuan tahun. Ia pun heran bagaimana mungkin jasad seseorang yang mati tenggelam bisa tetap terjaga dengan baik?
Namun keheranan itu berubah menjadi guncangan batin ketika ia menemukan ayat dalam Al-Qur’an:
> “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (wahai Firaun), agar kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahmu. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia dari tanda-tanda kekuasaan Kami adalah lalai.”
(QS. Yunus: 92)
Dr. Bucaille tercengang. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad bisa mengetahui bahwa jasad Firaun akan diselamatkan dan menjadi pelajaran, padahal mumi itu baru ditemukan ribuan tahun setelah Al-Qur’an diturunkan?
Penelitian ilmiah ini mendorongnya untuk menyelami isi Al-Qur’an secara serius. Ia pun menulis buku terkenal berjudul “La Bible, Le Coran et la Science” (Alkitab, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern). Dalam buku itu, ia menyimpulkan bahwa:
> “Saya menemukan dalam Al-Qur’an kebenaran ilmiah yang tidak saya temukan dalam kitab-kitab lain. Al-Qur’an mustahil ditulis oleh manusia biasa pada abad ke-7 Masehi.”
Akhirnya, Dr. Maurice Bucaille memeluk Islam, karena ia yakin Al-Qur’an bukan karangan manusia, tetapi wahyu dari Allah yang Mahatahu.
—
Penutup
Mukjizat Al-Qur’an tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi juga oleh siapa pun yang mau mengkaji dengan hati dan pikiran terbuka. Seperti halnya Dr. Bucaille, siapa pun yang tulus mencari kebenaran akan menemukan cahaya dari Al-Qur’an.
> “Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar: 17)




